SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI

  1. EVOLUSI PEMBUKUAN PENCATATAN BERPASANGAN

1.1    Sejarah awal akuntansi

Berbagai percobaan telah dilakukan untuk menyatakan lokasi dan waktu dari lahirnya sistem pencatatan berpasangan yang telah menghasilkan berbagai skenario. Kebanyakan skenario tersebut mengakui adanya kehadiran suatu bentuk pelaksanaan pencatatan di sebagian besar kebudayaan sejak sekitar 3.000 tahun sebelum masehi.

 

  1. C. Littleton membuat daftar tujuh prasyarat bagi munculnya pembukuan yang sistematis :

Seni Penulisan (The Art of Writing), karena pembukuan pada intinya adalah sebuah catatan; Aritmetika (Arithmetic), karna aspek mekanis dari pembukuan mengandung adanya serangkaian perhitungan sederhana; Milik Pribadi (Private Property), karena pembukuan hanya berkepentingan dengan pencatatan fakta-fakta mengenai harta benda dan hak miliknya; Uang (Money) yaitu perantara dalam perekonomian, karena akuntansi hanya dapat dibuat jika diukur dengan uang; Kredit yaitu catatan dibuat untuk transaksi yang belum selesai; Perniagaan karena transaksi membutuhkan system pencatatan; Modal (Capital), karena tanpa modal perniagaan akan tidak berarti dan kredit akan tidak mungkin.

 

Masing-masing kebudayaan kuno yang disebutkan diatas telah mencakup prasyarat-prasyarat tersebut, sekaligus menjelaskan mengapa telah terdapat semacam pembukuan didalamnya. Jika kita ingin melacak ilmu yang penting ini (akuntansi) kembali ke asal usulnya, kita secara alamiah akan menganggap pertemuan pertamanya akan berasal dari para pedagang; karena kebutuhan untuk melakukan transaksi secara jujur dan transparan. pada masa itu selain orang-orang Arab. Orang-orang Mesir, yang selama beberapa masa menunjukkan kejayaannya di dunia perdagangan, memperoleh pemikiran melakukan perdagangan tersebut melalui interaksinya dengan bangsa tersebut; dan, sebagai konsekuensinya, dari merekalah orang-orang Mesir harus melakukan suatu bentuk pertama dari akuntansi, yang menurut cara perdagangan yang umum, dikomunikasikan ke seluruh kota-kota di Timur Tengah. Bisnis perdagangan, yang untuk setiap kota-kota perdagangan di Eropa dihubungkan oleh orang-orang Lombardia, ikut pula memperkenalkan metode mereka dalam pencatatan rekening, melalui penggunaan pencatatan berpasangan; yang kini dikenal dengan sebutan pembukuan Italia.

Pembukuan Italia ini berkembang, seiring dengan perkembangan perdagangan dari republik Italia dan penggunaan metode pembukuan pencatatan berpasangan di abad ke-14. Buku pencatatan berpasangan yang pertama kali dikenal adalah pembukuan Massari dari Genoa,  sejak tahun 1340.

 

 

 

1.2  Kontribusi Luca Pacioli

Nama Luca Pacioli, seorang pastur dari ordo Fransiskus, pada umumnya diasosiasikan dengan pengenalan pembukuan pencatatan berpasangan untuk pertama kalinya. Pada tahun 1494 ia menerbitkan bukunya, Summa de Arithmetica Geometria, Proportioni et Proportionalita yang didalamnya terdapat dua buah bab-de Computis et Scripturis yang menjelaskan pembukuan pencatatan berpasangan. Ia menyatakan bahwa tujuan pembukuan adalah “untuk memberikan informasi yang tidak tertunda kepada para pedagang mengenai keadaan aktiva dan utang-utangnya”. Debit (adebeo) dan kredit (credito) digunakan dalam pencatatan untuk memastikan sebuah pencatatan berpasangan. Ia berkata, “Seluruh pencatatan harus berpasangan. Yaitu, jika Anda membuat seorang kreditor, maka Anda harus membuat seorang debitor”. Tiga buku digunakan disini : sebuah memorandum, sebuah jurnal, dan sebuah buku besar. Pada waktu yang bersamaan, mengingat umur yang pendek dari perusahaan-perusahaan bisnis, Pacioli menyarankan perhitungan dari laba suatu periode dan penutupan buku. Dibawah ini adalah saran yang diberikan:

Merupakan suatu hal yang baik untuk menutup buku setiap tahun, terutama jika Anda memiliki kerja sama kemitraan dengan pihak-pihak lain. Seringnya melakukan pencatatan akuntansi akan memperpanjang persahabatan.

 

1.3  Perkembangan Pembukuan Berpasangan :

  1. Sekitar abad ke-16 terjadi beberapa perubahan di dalam teknik-teknik pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkan jurnal-jurnal khusus untuk pencatatan berbagai jenis transaksi yang berbeda.
  2. Pada abad ke-16 dan 17 terjadi evolusi pada praktik laporan keuangan periodik. Sebagai tambahan lagi, di abad ke-17 dan abad ke-18 terjadi evolusi pada  personifikasi dari seluruh akun dan transaksi, sebagai suatu usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada akun-akun yang tidak  pasti hubungannya dan abstrak.
  3. Penerapan sistem pencatatan berpasangan juga diperluas ke jenis-jenis organisasi yang berbeda.
  4. Abad ke-17 juga mencatat terjadinya penggunaan akun-akun persediaan yang terpisah untuk jenis barang yang berbeda.
  5. Dimulai dengan East India Company di abad ke-17 dan selanjutnya diikuti dengan perkembangan dari perusahaan tadi, seiring dengan revolusi industri, akuntansi mendapatkan status yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya, dan kepercayaan yang diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan, periodisitas, dan akrual.
  6. Metode-metode untuk pencatatan aktiva tetap mengalami evolusi pada abad ke-18.
  7. Sampai dengan awal abad ke-19, depresiasi untuk aktiva tetap hanya diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual.
  8. Akuntansi biaya muncul di abad ke-19 sebagai sebuah hasil dari revolusi industri.
  9. Pada paruh terakhir dari abad ke-19 terjadi perkembangan pada teknik-teknik akuntansi untuk pembayaran dibayar di muka dan akrual, sebagai cara untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodik.
  10. Akhir abad ke-19 dan ke-20 terjadi perkembangan pada laporan dana.
  11. Di abad ke-20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk isu-isu kompleks, mulai dari perhitungan laba per saham, akuntansi untuk perhitungan bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa jangka panjang dan pensiun, sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru dari rekayasa keuangan (financial engineering).

 

2.  PERKEMBANGAN AKUNTANSI DI AMERIKA

 

Fase Kontribusi Manajemen (1900-1933)

Menajemen sepenuhnya mengendalikan informasi yang akan disajikan dalam pembuatan laporan keuangan

Akibatnya:

Prinsip akuntasi yang dibuat tidak memiliki ilmu teoritis

Focus pada meminimalkan pajak

Penggunaan metode akuntansi setiap perusahan sering berbeda dan tidak konsisten

Merugikan dan menyesatkan pihak diluar perusahaan

 

Fase Kontribusi Institusi (1933-1959)

SEC (Securities and Exchange Commission), AIA (The American Insitute of Accountants), AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) berperan dalam mengembangkan prinsip-prinsip akuntansi.

Hasil :

i.     Pendirian CAP (Committee on Accounting Procedures) yang bertugas menyusun accounting research Buletins (ARVs), cikal bakal PABU.

ii.    Perusahaan dapat memilih metode akuntansi, tapi harus mengungkapkannya dan konsisten

iii.  Pertentangan antara SEC dan CAP

 

3.       Fase Kontribusi Profesional

i.   Lembaga professional (AICPA) ikut berperan mengembangkan   perinsip akuntansi

ii.  Pembubaran CAP dan diganti APB (Accounting Principles Board) dan ARD (Accounting Reaseach Division)

iii. Masih muncul masalah konflik kepentingan

 

  1. Fase Kontribusi Politisasi (1973-Sekarang)

i.      Politisasi akuntansi

ii.    Alasannya: Penetapan standar akuntansi merupakan keputusan social dari hasil temuan logis dan empiris yang membutuhkan tindakan politis untuk ‘memasarkan’ dan memaksa pelaksanaannya.

iii. Peran FASB (Financial Accounting Standards Board) menyusun prinsip-prinsip akuntansi

iv. Kritik : Penyusunan standar masih dimonopoli oleh sebagian besar AICPA.

 

SEJARAH AKUNTANSI DI INDONESIA

Pada waktu Indonesia merdeka, hanya ada satu orang akuntan pribumi, yaitu Prof. Dr. Abutari, sedangkan Prof. Soemardjo lulus pendidikan akuntan di negeri Belanda pada tahun 1956.

Akuntan-akuntan Indonesia pertama lulusan dalam negeri adalah Basuki Siddharta, Hendra Darmawan, Tan Tong Djoe, dan Go Tie Siem, mereka lulus pertengahan tahun 1957. Keempat akuntan ini bersama dengan Prof. Soemardjo mengambil prakarsa mendirikan perkumpulan akuntan untuk bangsa Indonesia saja. Alasannya, mereka tidak mungkin menjadi anggota NIVA (Nederlands Institute Van Accountants) atau VAGA (Vereniging Academisch Gevormde Accountants). Mereka menyadari keindonesiaannya dan berpendapat tidak mungkin kedua lembaga itu akan memikirkan perkembangan dan pembinaan akuntan Indonesia.

Hari Kamis, 17 Oktober 1957, kelima akuntan tadi mengadakan pertemuan di aula Universitas Indonesia (UI) dan bersepakat untuk mendirikan perkumpulan akuntan Indonesia. Karena pertemuan tersebut tidak dihadiri oleh semua akuntan yang ada maka diputuskan membentuk Panitia Persiapan Pendirian Perkumpulan Akuntan Indonesia. Panitia diminta menghubungi akuntan lainnya untuk menanyakan pendapat mereka. Dalam Panitia itu Prof. Soemardjo duduk sebagai ketua, Go Tie Siem sebagai penulis, Basuki Siddharta sebagai bendahara sedangkan Hendra Darmawan dan Tan Tong Djoe sebagai komisaris. Surat yang dikirimkan Panitia kepada 6 akuntan lainnya memperoleh jawaban setuju.

Perkumpulan yang akhirnya diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akhirnya berdiri pada 23 Desember 1957, yaitu pada pertemuan ketiga yang diadakan di aula UI pada pukul 19.30.

Susunan pengurus pertama terdiri dari:

  • Ketua: Prof. Dr. Soemardjo Tjitrosidojo
  • Panitera: Drs. Mr. Go Tie Siem
  • Bendahara: Drs. Sie Bing Tat (Basuki Siddharta)
  • Komisaris: Dr. Tan Tong Djoe
  • Komisaris: Drs. Oey Kwie Tek (Hendra Darmawan)

Keenam akuntan lainnya sebagai pendiri IAI adalah

  • Prof. Dr. Abutari
  • Tio Po Tjiang
  • Tan Eng Oen
  • Tang Siu Tjhan
  • Liem Kwie Liang
  • The Tik Him

Konsep Anggaran Dasar IAI yang pertama diselesaikan pada 15 Mei 1958 dan naskah finalnya selesai pada 19 Oktober 1958. Menteri Kehakiman mengesahkannya pada 11 Februari 1959. Namun demikian, tanggal pendirian IAI ditetapkan pada 23 Desember 1957. Ketika itu, tujuan IAI adalah:

1. Membimbing perkembangan akuntansi serta mempertinggi mutu pendidikan akuntan.

2. Mempertinggi mutu pekerjaan akuntan.

Sejak pendiriannya 49 tahun lalu, kini IAI telah mengalami perkembangan yang sangat luas. Hal ini merupakan perkembangan yang wajar karena profesi akuntan tidak dapat dipisahkan dari dunia usaha yang mengalami perkembangan pesat. Salah satu bentuk perkembangan tersebut adalah meluasnya orientasi kegiatan profesi, tidak lagi semata-mata di bidang pendidikan akuntansi dan mutu pekerjaan akuntan, tetapi juga upaya-upaya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan peran dalam perumusan kebijakan publik.

 

AKUNTANSI PRAGMATIS

 

Periode 1800-1955 sering disebut sebagai ‘general scientific period’. Penekanannya adalah pada penyediaan suatu kerangka menyeluruh untuk menjelaskan mengapa akuntan seperti yang mereka lakukan, yaitu, berdasarkan pengamatan praktek. Analisis empiris bergantung pada pengamatan dunia nyata daripada berdasarkan praktek di logika deduktif yang sangat penting dari praktek saat ini. Fokus utama dari akuntansi adalah pada penggunaan biaya transaksi dan penerapan prinsip konservatisme. Metode ilmiah itu ditafsirkan berdasarkan empiris.

Namun, sementara itu telah diberi label periode empiris dalam pengembangan akuntansi, ada tingkat perdebatan logis tentang manfaat dari prosedur pengukuran. Hal ini terutama terjadi setelah the great Wall Street Crash pada 1929. Hal ini menyebabkan pembentukan Securities and Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat pada awal 1930-an. SEC memiliki kekuatan dan legislatif untuk memperbaiki peraturan keuangan dan pelaporan, dengan banyak melihat kecelakaan yang disebabkan oleh pertanyaan metode akuntansi. Stephen Zeff melaporkan bahwa Healy dan Kripke, dua praktisi terkemuka, yang sangat kritis terhadap praktek akuntansi menulis di Amerika Serikat pada 1920-an.

Tahun 1930-an juga memunculkan beberapa publikasi akuntansi terkemuka dan inisiatif dan melihat kelahiran teori konseptual berbasis profesional. Pada tahun 1936 American Accounting Association (AAA) dirilis Sebuah Pernyataan tentang Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Corporate Reports; pada tahun 1938 American Institute of Certified Practising Accountants (AICPA) membuat kajian independen prinsip-prinsip akuntansi dan dirilis Sebuah Statement of Accounting Principles (ditulis oleh Sanders , Hatfield dan Moore). Pada tahun yang sama, AICPA membentuk Accounting Procedurs Commitee, yang menerbitkan serangkaian buletin penelitian akuntansi. Sifat dari buletin (dan publikasi teori akuntansi lainnya pada waktu itu) adalah diringkas dalam pengantar Buletin No 43.

Empat puluh dua buletin diterbitkan selama periode 1939-1953. Delapan dari buletin tersebut melaporan tentang terminologi. 34 lainnya merupakan hasil penelitian oleh panitia pada prosedur akuntansi diarahkan kepada segmen dari praktik akuntansi di mana masalah yang paling menuntut dan dengan bisnis dan profesi akuntansi yang paling prihatin pada saat itu.

Sebagai hasil perkembangan sporadic untuk pengembangan prinsip-prinsip akuntansi, AICPA membentuk Accounting principles Board dan menunjuk direktur penelitian akuntansi pada tahun 1959. Secara keseluruhan, periode ini terfokus pada ‘sudut pandang’ praktis ada akuntansi dan, sebagai penelitian mendapatkan momentum selama periode itu, teori-teori untuk menjelaskan praktik diundangkan menjadi lebih rinci dan kompleks.

 

AKUNTANSI NORMATIF

 

Periode 1956-1970 dikenal dengan ‘periode normatif’ karena ini adalah periode dimana teori akuntansi berusaha menbangun ‘norma’ untuk ‘praktek akutansi terbaik’. Selama periode ini peneliti seperti Edwards dan Bell pada 1961 dan Chambers pada tahun 1966, kurang peduli tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam praktek dan lebih peduli tentang pengembangan teori-teori yang ditentukan apa yang harus terjadi. Pada tahun sebelum 1956, beberapa penulis menghasilkan karya-karya awal normatif yang terkait terutama untuk isu seputar dasar yang tepat untuk penilaian aset dan klaim pemilik. Teori ini menyesuaikan atas dampak dari inflasi dan kenaikan tertentu pada harga aset.

Periode normatif merupakan salah satu perdebatan yang penting diantara para pakar akutansi. Ini menjadikan pertarungan antara sudut pandang pendekatan yang ideal pada pengukuran dan pelaporan informasi akuntansi. Selama periode ini, perdebatan didominasi terutama tentang pengukuran daripada penerapan pada pencatatan dan pelaporan informasi. Namun, pada akhirnya tidak ada pilihan yang jelas untuk mengubah praktek suatu sistem yang ideal (inflasi atau harga disesuaikan) dalam akuntansi, dan melanjutkan penggunaan metode biaya historis. Pelaku akuntansi di Australia telah enggan untuk melanjutan kembali perdebatan tentang rekomendasi pada sistem pengukuran spesifik yang ideal dan telah gagal untuk mengeluarkan pedoman pengukuran yang komprehensif. Sebaliknya, pada tahun 2005 para pelaku akutansi mengadopsi pedoman pengukuran yang terkandung dalam kerangka konseptual International Accounting Standards Board’s (IASB). IASB memiliki pendekatan yang lebih tidak terstruktur, dengan standar akuntansi yang memungkinkan adopsi konsep pengukuran nilai saat ini yang digabungkan dengan biaya historis.

Teori normatif  berbeda karena teori ini mengadopsi suatu sikap objektif (yang ideal)   dan kemudian dapat menentukan objek tujuan. Teori tersebut memberikan pedoman untuk apa yang harus terjadi untuk mencapai tujuan teori tersebut . Seperti disebutkan, fokus utama dari teori normatif akuntansi selama periode 1956-1970 adalah dampak dari perubahan harga pada nilai aset dan perhitungan laba.

Dua kelompok mendominasi periode normatif – para kritikus biaya akutansi historis dan pendukung kerangka konseptual. Ada beberapa tumpang tindih antara kedua kelompok tersebut, terutama ketika kritikus biaya historis mencoba untuk mengembangkan teori akuntansi di mana aset pengukuran dan penentuan laba bergantung pada inflasi dan atau pergerakan harga tertentu.

Selama periode normatif, ide tentang ‘kerangka kerja konseptual’ menjadi semakin populer. Sebuah ‘kerangka konseptual’ adalah teori akuntansi yang terstruktur. Kerangka kerja tersebut dimaksudkan untuk mencakup semua komponen pelaporan keuangan dan dimaksudkan untuk memandu pada penerapannya. Sebagai contoh pada tahun 1965 ditugaskan oleh Goldberg adalah AAA untuk menyelidiki sifat akuntansi. Hasilnya adalah publikasi An inquiry into the Nature of accounting. Yang bertujuan mengembangkan kerangka teori akuntansi dengan menyediakan diskusi tentang sifat dan arti akuntansi. Satu tahun kemudian, AAA mengeluarkan pernyataan teori akuntansi dasar, dengan tujuan yang dinyatakan menyediakan pernyataan yang terintegrasi dari teori akuntansi dasar yang akan berfungsi sebagai panduan untuk pendidik, praktisi dan lain-lain tertarik pada akuntansi.

Periode normatif mulai berakhir di awal 1970-an, digantikan oleh periode ‘teori ilmiah spesifik’, atau ‘masa positif’ (1970). Dua faktor utama yang mendorong berakhirnya periode normatif adalah:

  1. Tidak dapat diterimanya sebagian hal dari teori normatif
  2. Penerapan prinsip-prinsip ekonomi keuangan, meningkatkan penyediaan data dan metode pengujian.

Karena teori-teori akuntansi normatif menjadi pedoman bagaimana akuntansi harus dilakukan, teori tersebut berdasarkan opini akun apa yang harus dilaporkan dan cara terbaik untuk melakukannya. Opini dalam menentukan tujuan yang tepat dan metode akuntansi bervariasi antara individu, dan ketidakpuasan terbesar dengan pendekatan normatif adalah bahwa tidak memberikan penyelesaian atas perbedaan-perbedaan pendapat. Henderson, Peirson dan Brown memberikan ringkasan utama dari teori-teori normatif dalam theorities 1970-an:

  1. Teori Normatif tidak selalu melibatkan pengujian hipotesis empris
  2. Teori normatif didasarkan pada penilaian.

Selanjutnya, asumsi pokok yang mendasari beberapa teori normatif belum teruji dan tidak jelas apakah bahwa teori-teori dasar yang kuat atau memiliki asumsi tentang tujuan akuntansi. Secara pragmatis ini juga sulit untuk menerima dari setiap teori akuntansi normatif tertentu.

 

AKUNTANSI POSITIF

Ketidakpuasan dengan teori normatif, di kombinasikan dengan peningkatan akses ke set data empiris dan pengakuan meningkatnya argumen ekonomi dalam literatur akuntansi, Menyebabkan pergeseran baru dari empirisisme yang beroperasi di bawah label yang luas dari teori positif. Akibatnya, teori positif bukan hal baru, karena didasarkan pada pendekatan empiris, yang membentuk dasar dari periode ilmiah umum. Teori positif berusaha untuk memberikan kerangka untuk menjelaskan praktek-praktek yang sedang diamati.Teori akuntansi positif berusaha untuk menjelaskan fenomena akuntansi yang diamati berdasarkan pada alasan-alasan yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Dengan kata lain, akuntansi positif dimaksudkan untuk menjelaskan dan memprediksi konsekuensi yang terjadi jika manajer menentukan pilihan tertentu. Penjelasan dan prediksi dalam akuntansi positif didasarkan pada proses kontrak (contracting process) atau hubungan keagenan (agency relationship) antara manajer dengan kelompok lain seperti investor, kreditor, auditor, pihak pengelola pasar modal dan institusi pemerintah.

Teori akuntansi positif adalah berhubungan dengan prediksi yaitu suatu tindakan pemilihan kebijakan akuntansi oleh perusahaan dan bagaimana perusahaan akan merespon untuk mengajukan standar akuntansi yang baru.”

Tujuan dari teori akuntansi positif adalah untuk menjelaskan (to explain) dan memprediksikan (to predict) praktek akuntansi. “penjelasan” berarti memberikan alasan terhadap praktek yang diamati. Misalnya, teori akntansi positif berusaha menjelaskan mengapa perusahaan tetap menggunakan akuntansi biaya histories dan mengapa perusahaan tertentu mengubah taktik akuntansi mereka. “Prediksi” terhadap praktik akuntansi berarti teori berusaha memprediksi fenomena yang belum diamati.

Atas dasar pernyataan dan asumsi Watts dan Zimmerman (1986) tersebut teori akuntansi positif berusaha menguji tiga hipotesis sebagai berikut :

– Hipotesis Rencana Bonus (Bonus Plan Hypothesis)

Manajer perusahaan dengan bonus tertentu cenderung lebih menyukai metode yang meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai sekarang bonus yang akan diterima seandainya komite kompensasi dari dewan direktur tidak menyesuaikan dengan metode yang dipilih (Watts dan Zimmerman, 1990)

– Hipotesis hutang atau ekuitas (Debt/Equity Hypothesis)

Semakin tinggi rasio hutang atau ekuitas perusahaan semakin besar kemungkinan bagi manajer untuk memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba. Semakin tinggi rasio hutang atau ekuitas semakin dekat perusahaan dengan batas perjanjian atau peraturan kredit. Semakin tinggi batasan kredit semakin besar kemungkinan penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya. Manajer akan memiliki metode akuntansi yang dapat menaikkan laba sehingga dapat mengendurkan batasan kredit dan mengurangi biaya kesalahan teknis (Watts dan Zimmerman, 1990).

– Hipotesis Cost Politik (Political Cost Hypothesis)

Perusahaan besar cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat mengurangi laba periodik disbanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan merupakan ukuran variable proksi (proxsy) dan aspek politik. Yang mendasari hipotesi ini adalah asumsi bahwa sangat mahalnya nilai informasi bagi individu untuk menentukan apakah laba akuntansi betul-betul menunjukkan monopoli laba. Di samping itu, sangatlah mahal bagi individu untuk melaksanakan kontrak dengan pihak lain dalam proses politik dalam rangka menegakkan aturan hokum dan regulasi, yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian individu yang rasional cenderuang memiliki untuk tidak mengetahui informasi yang lengkap. Proses politik tidak beda jauh dengan proses pasar. Atas dasar cost informasi dan cost monitoring tersebut, manajer memiliki insentif untuk memiliki laba akuntansi tertentu dalam proses politik tersebut (Watts dan Zimmerman, 1990).

Kehadiran pendekatan positif telah memberikan sumbangan yang berari bagi pengembangan akuntansi. Menurut Watts dan Zimmerman (1990) PAT telah memberikan konstribusi pengembangan akuntansi misalnya :

  • Menghasilkan pola sistematik dalam pilihan akuntansi dan membrikan penjelasan spesifik terhadap pola tersebut.
  • Memberikan kerangka yang jelas dalam memahami akuntansi.
  • Menunjukkan peran utama contracting cost dalam teori akuntansi.
  • Menjelaskan mengapa akuntansi dijelaskan dan memberikan kerangka dalam memprediksi pilihan-pilihan akuntansi.
  • Mendorong riset yang relevan dengan akuntansi dengan menekankan pada prediksi dan penjelasan terhadap fenomena akuntansi.

Pada saat sekarang teori positif menekankan pada penjelasan alasan-alasan terhadap praktek berjalan dan prediksi terhadap peranan akuntansi dan informasi terkait dalam kepuasan-kepuasan ekonomi individu, perusahaan, dan pihak yang lain yang berperan dalam kegiatan pasar modal dan ekonomi. Meskipun demikian, asumsi yang melandasi proyek penelitian positif tersebut banyak dikritik karena pendukung teori positif menggunakan penolakan alternative alias pemikiran yang lain. Artinya, teori positif tidak bebas dari pertimbangan nilai atau implikasi preskriptif. Hal ini disebabkan pertimbangan nilai yang bersifat implicit seringkali melandasi atau mempengaruhi bentuk dan isi penelitian yang dilakukan. Peneliti tidak dapat menghindari unsur bias dalam semua penelitian yang dilakukan. Dengan demikian unsur bias, jelas menunjukkan perwujudan orientasi dari peneliti tersebut.

Penelitian Empiris Teori Akuntansi Positif

  1. dalam penelitian Lev (1979) sama sekali tidak merekomendasikan bagaimana perusahaan dan investor harus bereaksi terhadap SFAS 19, tetapi memberi gambaran bagaimana kemungkinan reaksi manajer dan investor terhadap perubahan kebijakan akuntansi dari full cost ke successful efforts. Penelitian tersebut dapat membantu memberikan gambaran tentang mengapa perusahaan memilih standar yang berbeda, mengapa manajer menolak perubahan standar dan mengapa investor bereaksi dengan adanya perubahan standar yang mengakibatkan perubahan net income.
  2. penelitian Healy (1985) yang menemukan bukti bahwa manajer dengan bonus plan akan cenderung memilih kebijakan accrual untuk memaksimalkan bonus yang dia terima.
  3. penelitian Sweeney (1994) melaporkan pengujian hipotesis kovenan utang. Dia mempelajari 130 perusahaan manufaktur di Amerika Serikat yang melakukan pelanggaran pertama kali terhadap kovenan utang selama periode 1980 – 1939, dan sebagai sampel kontrol sebanyak 130 perusahaan yang mempunyai ukuran dan jenis industri yang sama yang tidak melakukan pelanggaran kovenan utang. Hasil penelitian tersebut antara lain adalah:
  • pelanggaran sering terjadi bersangkutan dengan maintenance of working capital dan pemegang saham dan untuk utang/modal dan rasio interest coverage jarang terjadi, banyak perusahaan yang mengungkapkan biaya yang ditanggung karena pelanggaran kovenan yaitu kenaikan security, pembatasan pinjaman, dan tingginya tingkat suku bunga,
  • dalam periode 8 tahun pertama, mulai tahun kelima sebelum pelanggaran perjanjian perusahaan lebih sering melakukan perubahan kebijakan akuntansi dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan pelanggaran sebagai sampel kontrolnya. Sebagai contoh, perubahan peningkatan income termasuk perubahan dalam asumsi rencana pensiun, batas pensiun, adopsi metode persediaan dari LIFO, dan likuidasi dengan metode LIFO inventory layers,
  • perusahaan bisa melakukan manipulasi net income yang dilaporkan pada waktu adopsi standar akuntansi yang baru. Dia menemukan terdapat kecenderungan untuk perusahaan yang menerapkan lebih awal standar yang mengakibatkan kenaikan income dan akan menunda standar yang mengakibatkan penurunan income. Perusahaan yang dijadikan sampel kontrol tidak berperilaku demikian,
  • dari 130 sampel perusahaan yang melakukan pelanggarab, hanya 53 perusahaan secara nyata mengubah kebijakan akuntansi selama periode 8 tahun tersebut. Sisanya sebanyak 77 perusahaan tidak melakukan perubahan meningkatkan income. Hal ini bisa memberikan suatu pertanyaan untuk generalisasi bentuk oportunistik dari hipotesis kovenan utang,
  • untuk menyelidiki mengapa ada perusahaan yang melakukan perubahan dan yang sebagian tidak, maka Sweeney mengidentifikasi perusahaan yang mempunyai fleksibilitas akuntansi dan biaya default yang rendah dan ternyata perusahaan tersebut cenderung tidak melakukan perubahan kebijakan akuntansi.
  1. penelitian Jones (1991) menemukan kejadian dari perilaku yang diprediksi. Studi ini meneliti perusahaan yang melaporkan net income yang lebih rendah selama penyelidikan import relief. Pemberian keringanan bagi perusahaan merupakan bagian dari keputusan politis. Manajer akan cenderung memilih kebijakan akuntansi yang melaporkan income lebih kecil dan cenderung memilih kebijakan akuntansi yang bersifat accrual yang dikenal discretionary accrual. Jones memeriksa apakah perusahaan yang menggunakan discretionary accruals untuk melaporkan earningsnya lebih rendah. Dia mengumpulkan sampel sebanyak 23 perusahaan dari 5 industri yang termasuk didalamnya 6 penyelidikan import relief dengan International Trade Commission (ITC) selama periode 1980 – 1985.

 

PERKEMBANGAN TERKINI

 

Kedua bunga, akademik dan profesional dalam pengembangan teori cenderung menjadi selaras di masa lalu. Pada kali terakhir, bagaimanapun, perkembangan akademik dan profesional dalam teori akuntansi telah mengambil pendekatan yang agak berbeda. sedangkan penekanan penelitian akademis tetap di bidang pasar modal, teori keagenan, dan dampak perilaku, profesi telah melakukan pendekatan normatif yang lebih.

Pada pertengahan hingga akhir 1980-an, profesi akuntansi Australia sangat terlibat dalam perdebatan kerangka konseptual dalam upaya untuk memberikan pernyataan definitif sifat dan tujuan pelaporan keuangan dan untuk menyediakan kriteria yang tepat untuk memutuskan antara practies akuntansi alternatif. di Desember 1987, yayasan penelitian akuntansi Australia merilis ‘pernyataan Usulan konsep akuntansi’ ED 42A-D, yang diuraikan, karakteristik objektif kualitatif dan aturan untuk definisi dan pengukuran aktiva dan kewajiban.

Transisi ke IFRS melihat penggantian SAC 3 dan SAC 4 dengan kerangka coceptual IASB, yang bersama-sama dengan SAC 1 dan SAC 2 membentuk kerangka konseptual di Australia. Kerangka IASB juga membentuk dasar untuk kerangka lain penetapan standar negara-negara seperti Inggris, Kanada dan Selandia Baru.

Kebutuhan untuk satu set standar akuntansi internasional diakui oleh profesi akuntansi di Australia dengan adopsi IFRS dalam Januari 2005. Standar internasional berusaha untuk mengharmonisasikan praktek melintasi batas pelaporan internasional dan untuk mengurangi perbedaan dalam informasi yang dilaporkan yang merupakan konsekuensi langsung dari pilihan akuntansi yang berbeda. Pendekatan ini bertujuan untuk menghilangkan pengungkapan akuntansi dan teknik-teknik khusus untuk satu atau informasi, terutama untuk perusahaan-perusahaan multinasional dan terdaftar. Asumsinya adalah bahwa isu-isu teoritis yang sama berlaku apakah standar spesifik untuk satu negara atau dirancang untuk aplikasi global.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s